Didalam ajaran tasawuf,
adab kepada guru Mursyid adalah
sesuatu yang utama dan pokok, karena hampir seluruh pengajaran tasawuf
itu berisi tantang pembinaan akhlak manusia menjadi akhlak yang baik,
menjadi akhlak yang mulia sebagaimana akhlak Rasulullah SAW. Seorang
murid harus selalu bisa memposisikan (merendahkan) diri di depan Guru,
harus bisa melayani Guru nya dengan sebaik-baiknya.
Abu yazid al-Bisthami terkenal dengan ketinggian hadapnya. Setiap
hari selama bertahun-tahun Beliau menjadi khadam (pelayan) melayani
gurunya sekaligus mendengarkan nasehat-nasehat yang diberikan gurunya.
Suatu hari Guru nya menyuruh Abu Yazid membuang sampah ke jendela.
“Buang sampah ini ke jendela”,
dengan bingung Abu Yazid berkata, “Jendela yang mana guru?”
“Bertahun-tahun engkau bersamaku, tidak kah engkau tahu kalau di belakangmu itu ada jendela”
Abu Yazid menjawab, “Guru, bagaimana aku bisa melihat jendela, setiap
hari pandanganku hanya kepada mu semata, tidak ada lain yang kulihat”.
Begitulah adab syekh Abu Yazid Al-Bisthami kepada gurunya,
bertahun-tahun Beliau tidak pernah memalingkan pandangan dari Guru nya,
siang malam yang di ingat hanyalah gurunya, lalu bagaimana dengan kita
yang selalu dengan bangga menyebut diri sebagai murid seorang Saidi
Syekh?
Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita Abu Yazid. Kalau
Abu Yazid tidak pernah memalingkan pandangan dari guru nya, kalau kita
jauh panggang dari api, ketika Guru sedang memberikan fatwa masih sempat
ber-SMS ria, masih sempat bermain game (kalau ponselnya punya game),
masih sempat ketawa ketiwi. Kalau Abu Yazid tidak pernah tahu dimana
letak jendela, kalau kita malah bisa tahu berapa jumlah jendela dirumah
Guru sekalian warna gordennya, mungkin juga kita tahu jumlah pot bunga
di ruangannya.
Kita bukanlah Syekh Abu Yazid, atau bukan juga Syekh Burhanuddin
Ulakan yang mau masuk kedalam WC (Septictank) mengambil cicin gurunya
(Syekh Abdura’auf as-Singkily/Syiah Kuala) yang jatuh saat buang hajat,
kita bukan juga Imam al-Ghazali yang mau membersihkan kotoran gurunya
dengan memakai jenggotnya, kita bukan juga Sunan Kalijaga yang dengan
sabar menjaga tongkat guru nya dalam waktu yang sangat lama. Kita juga
bukan Syekh Abdul Wahab Rokan yang selalu membersihkan WC guru nya
(syekh Sulaiman Zuhdi q.s) dengan memakai tangannya.
Kita bukanlah Beliau-beliau yang sangat mulia itu yang selalu
merendahkan dirinya dengan serendah-rendahnya dihadapan gurunya. Kita
bukan mereka, tapi paling tidak banyak hal yang bisa dijadikan contoh
dari kehidupan mereka agar kita berhasil dalam ber guru.
Merendahkan diri dihadapan guru bukanlah tindakan bodoh, akan tetapi merupakan tindakan mulia. Dalam diri guru tersimpan
Nur Ala Nurin
yang pada hakikatnya terbit dari zat dan fi’il Allah SWT yang merupakan
zat yang Maha Positif. Karena Maha Positif maka mendekatinya harus
dengan negatif. Kalau kita dekati yang Maha Positif dengan sikap positif
maka rohani kita akan ditendang, keluar dari
Alam Rabbani.
Disaat kita merendahkan diri dihadapan guru, disaat itu pula Nur
Allah mengalir kedalam diri kita lewat guru, saat itulah kita sangat
dekat dengan Tuhan, seluruh badan bergetar dan air mata pun tanpa terasa
mengalir membasahi pipi. Hilang semua beban-beban yang selama ini
memberatkan punggung kita, menyesakkan dada kita, dan yang bersarang
dalam otak kita. Ruh kita terasa terbang melayang meninggalkan Alam
Jabarut melewati Alam Malakut sambil memberikan salam kepada para
malaikat-Nya dan terus menuju ke Alam Rabbani berjumpa dengan SANG
PEMILIK BUMI DAN LANGIT. Pengalaman beberapa orang yang berhadapan
dengan Guru Mursyid yang Kamil Mukamil Khalis Mukhlisin menceritakan
bahwa jiwanya terasa melayang, tenang dan damai, seakan-akan badan tidak
berada di bumi, inilah yang disebut fanabillah, seakan-akan disaat itu
Tuhan hadir dihadapannya dan seakan-akan telah mengalami apa yang
disebut dengan Lailatul Qadar, Wallahu’alam